ilustrasi istimewa

Jakarta, Seruu.com- Jika sudi menghitung, ada banyak sekali "wakil". Wakil komisi, ini biasanya menyangkut bagi-bagi proyek. Wakil rakyat, karena memang ada rakyat biasa. Wakil menteri, selain sudah jarang juga tidak populer sekarang. Wakil ketua, ya kerjanya bantu-bantu ketua lah. Wakil gubernur, sejenis dengan wakil bupati atau wakil walikota, sama-sama tak punya job kalau pimpinannya tak mau kasi. Wakil presiden, sesuai namanya, ini benar-benar prestige. Dia mendampingi presiden sebagai orang nomor dua.
 

Presiden misalnya, adalah makhluk yang paling banyak kerjanya seantero negeri. Dia kerja ke dalam juga ke luar negeri. Di dalam mengurus semua kebutuhan seluruh makhluk, di luar menjalin hubungan yang menguntungkan negeri. Perlulah beliau ini seorang wakil yang membantu tugas beratnya itu. Wakilnya, tidak punya tupoksi khusus, kecuali membantu semua kegiatan presiden kalau presidennya berhalangan atau atas keterbatasan waktu presiden. Andai saja presiden bisa berbadan dua atau tiga atau banyak seperti jurus Kagebunshin no Jutsu milik Naruto, tak perlu-perlu amat adanya wakil presiden. Kecuali ada perkara genting di mana presiden berhalangan tetap atau dilengserkan dari kursi kekuasaan, ini jadi bagian yang paling enak buat wakil presiden atau turunannya wakil gubernur, wakil bupati dan wakil walikota. Lain perkara dengan wakil camat ke bawah, mau gonta-ganti pimpinan nasib mereka tak mujur buat jadi pengganti.

Presiden juga manusia, ada kalanya beliau was-was, takut, curiga ataupun galau melihat situasi di mana makhluknya mulai garang. Presiden Jokowi pun bersafari, datang ke kandang singa, kandang harimau, kandang gajah, juga kandang rubah supaya beliau tak ditikam sewaktu-waktu. Lebih bahaya kalau para makhluk ganas itu bersatu membuat rencana atau muslihat, habis sudah riwayat kekuasaan beliau. Sekiranya beliau sudah baca buku Il Principe Machiavelli yang bilang soal super bahayanya jika singa dan rubah bersatu. Singa itu ganas, rubah itu licik.

Beliau tiba-tiba keliling markas TNI-Polri yang dikenal pemburu binatang buas itu. Rupanya beliau sadar jika pemburu dengan binatang buruannya sudah main mata, penghuni hutan yang bahaya, lebih-lebih penguasanya. Ada rahasia di balik peristiwa, kata orang tua dulu. Rahasia apakah yang tersembunyi sehingga TNI-Polri yang tak pernah buat majelis dzikir seumur-umur, mendadak pakai peci semua. FPI unjuk gigi, Presiden Jokowi unjuk kaki, jingkrak-jingkrak sama prajurit berbaret itu.

Binatang boleh bermanuver, juga para pemburu, namun penguasa punya banyak mata untuk mengawasi, juga punya wakil-wakil di sana sini. Akhirnya, ketua wakil rakyat diganti-diganti. Salah apa Pak Akom harus diganti, tanya saya. Hal ihwal apa yang buat ketua DPR yang sudah mengundurkan diri kembali unjuk kepala, tanya saya. Saking kagetnya, sahabat saya orang condet menyepak kucingnya sendiri sehingga hewan yang tak ada urusan apa-apa ini memekik dan terheran-heran.

"Bisa jadi buat menghindar dari sidang beraroma istimewa yang buat Gus Dur terpingkal tempo hari," kata Akbar. Kala itu, massa dikoordinir untuk menuntut presiden mundur, TNI baris-berbaris unjuk senjata ke istana, partai beramai-ramai cabut mandat karena kadernya dicopot dari kabinet.

Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendara didepak karena tegas meminta Gus Dur mundur, Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail dicopot karena tak mampu mengendalikan massa partainya yang demo memakzulkan presiden, juga Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono diberhentikan lantaran menolak permintaan presiden menyatakan keadaan darurat. Yang istimewa adalah wakil presiden dikawal ketat oleh tentara sebagai calon pengganti presiden yang bakal terguling.

Itulah untungnya jadi wakil. Presiden yang mau digulingkan, wakilnya kipas-kipas, sambil angkat kaki, tak perlu bicara, tinggal tunggu hasil. Beda soal sama wakil rakyat, kata "wakil" hilang, jadilah dia rakyat jelata. Tapi, tiba masa di mana ketua wakil rakyat maju, mundur, maju lagi ibarat bola bilyar tak pernah kapok disodok-sodok.

Selain perkara di Senayan, wakil selalu untung. Begini kata Ahyat yang paham Islamnya nasionalis fundamentalis, "Kalau nanti Ahok menang di Pilkada DKI, terus proses hukumnya berjalan dan ia divonis bersalah, malah bagus, Djarot yang muslim yang jadi gubernur kita." Ahyat melihat banyak perkara di mana gubernur masuk bui, wakilnya tertawa terbahak-bahak, sampai isi perut melintir, sampai air mata melompat ke luar, boro-boro mau belain. Lain soal kalau wakil kena masalah, kepalanya ikut sengsara. Wakil Presiden Boediono hampir terbawa arus Century, Presiden SBY ikut pening, entah ada bendungan atau genangan sampah, arus itu terhenti. Tak heran, saat itu, alat berat pengeruk belum ada.

Rupanya ada masalah konstitusi di mana presiden atau gubernur, bupati dan walikota seantero negeri sering lengser diganti oleh wakil-wakilnya. Bisa jadi wakilnya yang berbuat, tapi sembunyi tangan. Bisa jadi ada percikan api, wakilnya yang kipas-kipas sambil tiup-tiup biar jadi bara yang membakar. Bisa jadi wakilnya yang buat makar, presiden atau gubernurnya yang kena lengser. Soalnya, presiden atau gubernur dan semacamnya tidak boleh seenak jidat mengganti wakilnya, hanya wakil yang boleh menggantikan mereka. Lain cerita apabila wakilnya kena KPK, bisa jungkir balik tak tertolong. Padahal, namanya wakil buat membantu kepalanya, nah kalau wakil sudah tak sudi membantu, malah bikin pening kepala, seharusnya boleh diganti, kepala punya urusan.

Perkara ganti-mengganti, ada juga yang maunya mengganti Pancasila dengan panca yang lain atau sapta atau dasa atau piagam lainnya. Tentu saja ini dilarang oleh UUD 1945, tapi mereka yang mau mengganti dibiarkan melenggang, malah unjuk kekuatan pakai massa. Kalau orang per orang mau mengganti Pancasila itu tidak soal, tapi kalau sudah terkoordinir dan punya organisasi solid, kok dibiarkan. Kalian orang yang pusing sendiri. Lihat sekarang, mereka yang tak sudi melihat garuda, mulai naik burung onta, selain bisa mematuk-matuk mangsa, pasir dan kerikil pun ditelan.

Mereka yang anti Pancasila berarti anti Republik Indonesia, anti demokrasi, anti keragaman, anti kebhinekaan yang sudah dibangun oleh pendiri bangsa dengan keringat darah dan diperjuangkan oleh seluruh rakyat dengan nyawa. Masa Bung Karno, Bung Hatta, Bung Yamin, Bung Maramis, (Bung) K.H. Wahid Hasyim dan Bung-Bung yang lain harus menangis di kuburnya, lantaran maha karyanya mau dibumihanguskan.

Pancasila itu sudah mulus sejak lahirnya saat pidato Bung Karno 1 Juni 1945, 71 tahun lalu, mudah-mudahan sampai hari kiamat. Begini nasihat Mahbub Djunaidi, "Pancasila itu utuh lagi mulus, bukan saja sebagai dasar negara, melainkan satu ideologi, melainkan satu filsafat, satu Weltanschauung, satu Lebensanschauung, satu moral, satu tata pergaulan hidup, satu alat pemersatu, satu pedoman praktis buat bertindak, satu ide besar, yang lebih dulu muncul daripada piagam perdamaian San Fransisco 26 Juni 1945, yang tidak langsung berpangkal pada Deklarasi Kemerdekaan AS maupun Manifesto Komunis, karena dia pada hakikatnya intisari dari peradaban Indonesia selama 2000 tahun. Saking yakin sempurnanya, sampai-sampai pernah ditawarkan sebagai dasar Piagam PBB di tahun 1960 karena dianggap dalam banyak hal piagam yang ada tidak lagi mencerminkan kenyataan yang berkembang."

Akbar, anak ingusan yang kuliah di kampus Muhammadiyah itu bilang, "HTI, FPI dan ormas-ormas anti pancasila itu harus dibubarkan, biar tak mengacau di Republik yang majemuk nan damai ini. Kalau dibiarkan terus ada dan berkembang, mereka bakal merongrong NKRI." Bagaimana caranya, tanya saya. Siapa yang punya kuasa membubarkan, tanya saya. "Caranya pakai aturan dong! Tak bisa kau seenaknya mau bubarkan ormas, ada aturan, ada tahapan-tahapan, prosesnya juga panjang dalam UU No 17 tahun 2013 itu, tak mudah kau penuhi kalau kau tak niat," jawab Ipul mahasiswa hukum tingkat akhir.

Bung, negara ini punya aturan, jangan kau labrak demi kepentinganmu dan golonganmu. Perlu pikiran supaya negara aman, pemerintah tenang, rakyat berjaya. Wakil-wakil itu tak boleh besar kepala, mentang-mentang bisa jadi pimpinan kalau sewaktu-waktu kepalanya nyungsep. Pun ormas-ormas itu tak boleh suka-suka, mentang-mentang punya massa. Bisa?

Penulis Mulyadin Permana adalah Antropolog Universitas Indonesia dan Ketua Umum PMII DKI Jakarta Periode 2014-2016.