Teheran, Seruu.com - Iran mengumumkan kemajuan dalam pengolahan teknologi nuklir sekaligus berhasil menggelar ujicoba rudal jarak menengah anti radar. Sebelumnya, AS sudah menyiapkan sanksi baru kepada Iran atas pengembangan teknologi nuklirnya, yang dikhawatirkan bisa dibuat menjadi senjata pemusnah massal.

Perwira Angkatan Laut Iran, Mahmoud Mousavi, kepada kantor berita IRNA Minggu kemarin mengungkapkan bahwa mereka sukses menggelar ujicoba dengan menembakkan rudal darat-ke-udara. Rudal itu dilengkapi dengan teknologi anti radar.

Sebelumnya Iran sudah menyatakan bahwa mereka akan menggelar ujicoba rudal dalam hitungan hari. Iran diyakini memiliki rudal yang bisa menjangkau musuhnya, Israel, dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Sebelumnya, Stasiun Televisi Iran pekan lalu mengungkapkan bahwa tim ilmuwan mereka berhasil mengembangkan teknologi komponen nuklir pada tahap lanjut. Mereka mengklaim telah memproduksi dan menguji komponen inti tenaga uranium (fuel rod) di reaktor nuklir mereka.

Komponen itu dibuat di Iran dan telah disiapkan untuk reaktor penelitian nuklir, demikian stasiun televisi setempat. Iran berkali-kali membantah tudingan dari negara-negara Barat bahwa mereka akan membuat senjata nuklir. Teknologi nuklir yang mereka kembangkan, ujar para pejabat Iran, hanya untuk kepentingan damai yaitu untuk sumber energi.

Klaim itu tidak menghentikan AS dan negara-negara Barat lain untuk berkali-kali menjatuhkan sanksi ekonomi dan perdagangan. Dewan Keamanan PBB pun sudah empat kali menjatuhkan sanksi kepada Iran. Terakhir, AS Sabtu pekan lalu mengesahkan sanksi sepihak untuk membekukan aliran keuangan bagi Iran dari luar negeri.

Menurut kantor berita Reuters, langkah itu diyakini bisa memukul ekspor minyak Iran. Uni Eropa pun akan menerapkan sanksi serupa. Bila sanksi-sanksi itu diterapkan secara bersamaan, sangat sulit bagi perusahaan-perusahaan energi untuk membeli minyak mentah dari Iran, yang dikenal sebagai penghasil "emas hitam" terbesar keempat di dunia.

Sebagai reaksi atas potensi penjatuhan sanksi baru, Iran pekan lalu sudah mengancam akan menutup Selat Hormuz. Perairan itu sangat strategis karena menjadi lokasi bagi 40 persen pengiriman minyak dunia dari jalur laut. [ms]