Situasi penangkapan dan penyisiran yang dilakukan polisi terhadap warga yang bersembunyi dan menceburkan diri ke laut saat penyerangan pelabuhan Sape oleh aparat

Jakarta, Seruu.com - Kepolisian menetapkan 56 warga Bima sebagai tersangka perusakan dan pembakaran kantor kepolisian, kantor pemerintah, dan puluhan rumah warga yang terjadi Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (24/12/2011) lalu. Saat ini, ke 56 tersangka itu ditahan di Polres Bima. Sementara dari kepolisian hanya ada 5 orang tersangka dan itupun hanya diancam dengan sanksi disiplin.

"Dalam pengungkapan kasus kerusuhan di Bima, menangani 56 tersangka masyarakat sebagai pelaku kerusuhan dan kebakaran dan juga pendudukan pelabuhan Sape," ujar Kepala divisi Humas Polri Irjen (Pol) Saud Usman Nasution, di Gedung Humas Polri, Jakarta, Senin (2/1/2012).

Selain itu, polisi masih mencari kecocokan peluru dengan senjata yang digunakan aparat keamanan. Hali ini terkait penyelidikan korban tewas dan luka dalam bentrokan tersebut.  "Kita mendapat 8 bullet dari peluru karet, ditubuh korban yang diopname di rumah sakit di Bima. Kita akan cari senjata mana yang digunakan," tegasnya.

Dari kepolisian lima orang anggota di Bima terbukti melakukan pelanggaran berupa tindakan kekerasan terhadap para pengunjukrasa di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (24/12/2011) lalu.

Satu anggota Brimob terbukti memukul pengunjuk rasa dengan popor senjata dan dua anggota Polres Bima terbukti memukul dan menendang warga. Sementara, dua orang lainnya, Briptu A dan MS terbukti menendang warga dari belakang.

"Kelimanya akan disidang disiplin di Polres Bima dalam waktu dekat. Sedangkan pelaku lainnya masih dalam pelacakan kita," ujarnya

Seperti yang diberitakan, tragedi berdarah tersebut diawali dengan unjuk rasa yang dilatarbelakangi penerbitan SK baru bernomor 188/45/357/004/2010 yang berisi pemberian izin kepada PT Sumber Mineral Nusantara (PT SMN) untuk mengeksplorasi lahan di Bima seluas 24.980 hektar. Hal ini memicu kekhawatiran warga, bahwa aktivitas pertambangan yang dilakukan PT SMN mengganggu mata pencarian mereka, yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Korban tewas dalam insiden itu berjumlah tiga orang, dan puluhan lainnya luka-luka. Tiga korban tewas tersebut adalah dua warga Desa Suni, Kecamatan Lambu, Arif Rahman (18), Syaiful (17), dan Immawan Ashary, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah NTB. 

Terkait dengan jomplangnya jumlah tersangka dan ancaman sanksi yang diterapkan kepada seluruh tersangka Ktua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lamen Hendrasaputra menilai bahwa hal tersebut sangat tidak sebanding.

"Korban semua dari warga dan tidak ada satupun polisi yang menjadi korban dalam bentuk apapun. Namun justru tersangka lebih banyak dari warga. Apalagi 5 polisi yang menganiaya cuma diancam sanksi disiplin sementara pelaku pembunuhan dan penghilangan nyawa tidak ada, ini membuktikan polisi tidak merasa bersalah dalam tragedi berdarah tersebut," tandasnya.

Menurut LMND, seharusnya Kapolri dan Bupati Bima yang menjadi tersangka atas dasar penggunaan kekerasan dalam menghadapi tuntutan warga yang berdemonstrasi secara damai.

"Kami sebagai pendamping sudah berulangkali mengingatkan kepada Kapolri dan Bupati agar bisa menyelesaikan persoalan lewat jalur dialog, namun mereka lebih memilih menggunakan pentungan dan senjata polisi serta mencabuti nyawa warga sendiri dibanding memenuhi tuntutan mereka demi uang dan jabatan," pungkas Lamen. [musashi]