Korban Penembakan di Bima saat diangkat aparat (istimewa)

Jakarta, Seruu.com - Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, menduga pelaku penembakan dalam aksi pembubaran massa di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 24 Desember 2011, adalah anggota reserse yang ikut bertugas saat kejadian, bukan pasukan antihuru-hara. Dugaan tersebut didasari fakta bahwa anggota reserse bersenjatakan pistol.

"Kalau pistol kan tidak ada peluru karetnya," ujar Bambang saat dihubungi, Senin (02/1/2012).

Bambang mengatakan, jika memang benar dalam aksi kekerasan di Bima anggota polisi menggunakan peluru tajam, hal tersebut menyalahi prosedur. Apalagi sampai menyebabkan korban tewas. “Ini bukan kesalahan teknis lagi,” ujarnya.

Sebab itu, kata Bambang, proses hukum terhadap anggota polisi yang penembak bukan soal pelanggaran kode etik atau profesi lagi, melainkan pidana. “Kalau lewat Propam, paling hukumannya penundaan kenaikan pangkat atau pemindahtugasan saja. Tapi kalau pidana umum, hukuman penjara,” kata dia.

Bambang juga berharap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang ikut menyelidiki kekerasan di Bima dapat mengungkapkan fakta secara transparan. Sebab, menurutnya, Polri sampai saat ini lebih banyak berkelit.

Sebelumnya diberitakan hasil otopsi terhadap jenazah Arif Rachman dan Syaiful di Rumah Sakit Umum Bima menunjukkan makin kuatnya bukti penggunaan peluru tajam oleh polisi dalam membubarkan blokade di pelabuhan.

Dokter Sucipto, yang ikut melakukan otopsi, menyatakan pada tubuh dua korban tersebut terdapat dua lubang luka yang tembus dari satu sisi tubuh ke sisi yang lain. Kepala Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah itu mengatakan tim dokter menemukan, “Serpihan peluru kecil-kecil (di tubuh korban).”. [ms]