Banjir (Istimewa)

Medan Seruu.com - Wakil Bupati Mandailing Natal atau Madina Dahlan Hasan Nasution menyatakan banjir di Kecamatan Penyabungan yang merendam 10 desa bukan karena pembalakan liar yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Banjir terjadi karena faktor alam, bukan karena `ilegal logging`, ini yang perlu dijelaskan kepada masyarakat," katanya ketika dihubungi dari Medan, Rabu (29/2/2012).

Banjr yang melanda Kecamatan Penyabungan, Kabupaten Madina, Minggu (26/2/2012) sore itu mengakibatkan ratusan rumah warga mengalami kerusakan, 60 rumah hanyut, mushala dan gedung sekolah dasar terendam, satu jembatan di Gunung Tua Penyabungan rusak parah, serta ratusan hektare sawah milik warga terancam gagal panen.

Dahlan mengatakan memang sebelum terjadi bencana banjir itu, hujan turun sangat lebat, sehingga Sungai Ranto Puran yang berada di Kecamatan Penyabungan meluap, dan mengakibatkan 10 desa di wilayah tersebut mengalami banjir.

Terjadinya banjir itu, menurut dia, juga karena debit air di Sungai Ranto Puran cukup tinggi, sehingga meluap menggenangi rumah-rumah penduduk. Ketinggian banjir satu hingga dua meter.

"Jadi, penyebab banjir tersebut bukan karena terjadinya pencurian kayu di Gunung Penyabungan, tetapi bisa dikatakan akibat faktor alam, yakni terjadinya hujan lebat," katanya.

Bahkan, kata dia, beberapa hari belakangan ini hujan sering terjadi di Kabupaten Madina yang berada di wilayah pantai barat Sumatera.

Dahlan mengatakan bukti tidak adanya pembalakan liar itu, ia bersama beberapa orang pegawai Pemkab Madina dan aparat Kepolisian di kota itu langsung turun ke lokasi banjir.

Lokasi yang ditinjaunya itu dengan menggunakan kapal berukuran kecil, yakni Desa Sopo Batu.Desa tersebut berada di daerah hilir, dan tidak ada ditemukan tanda-tanda terjadi pengrusakan kawasan hutan dan pengambilan kayu secara liar.

"Tidak ada ditemukan penebangan kayu yang berada di pinggiran hutan," ujarnya.

Kemudian, menurut Dahlan ditemukan beberapa kayu yang ikut hanyut dibawa banjir, itu bukan kayu hasil tebangan.

"Kayu-kayu tersebut merupakan peremajaan yang dilakukan petani di kebun milik mereka.Dan bukan kayu yang ditebang secara liar dan melanggar prosedur hukum," kata Dahlan.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Penyabungan, Minggu (26/2) sore itu merendam 10 desa, yakni Gunung Tua Jae, Gunung Tua Tonga, Gunung Tua Julu, Gunung Manaon, Pangaran Tonga, Saba Jambu, Manyabar, Manyabar Jae, Lumban Pasir dan Sopo Batu.

Saat terjadi banjir, ketinggian air mencapai satu hingga dua meter.[ant]