Submenu: Home » Entertainment » Musik

Bagi seorang musisi, umur tua bisa makin bersinar

Kamis, 23 Juni 2016 05:00

Seruu.com – Bagi seorang musisi, usia tua tidak akan membunuh karier musiknya.  Inilah tulisan Jim Farber tentang musisi-musisi gaek yang dipetik Seruu.com dari BBC.Di usia 74 tahun, Paul Simon bisa dibilang menghasilkan karya terbaiknya dan dia bukan sendirian. Banyak pemusik memutuskan bahwa mereka tidak akan berhenti berkarya dan memainkan musik, tulis Jim Farber.Nick Lowe melihat banyak bintang pop tua dengan campuran perasaan malu dan takut.Dia menyatakan mahluk-mahluk ini “orang tua rambut menipis yang melakukan hal yang sama saat mereka masih muda, langsing dan cantik. Ini membuat muak dan kadang-kadang tragis.”Tidak mengherankan pada usia 50-an, Lowe melakukan hal yang sama sekali berbeda.Sekarang di umur 67 tahun, perintis pop-punk tahun 70-an ini menjadi penyanyi balada dengan mengedepankan pandangan hidup dan usianya di suaranya. Jika ada yang sampai tidak memperhatikan pandangannya, Lowe memberikan judul albumnya At My Age.Lowe tidak sendirian menolak memaksakan versi dirinya saat masih muda. Dalam sepuluh tahun ini, semakin banyak bintang yang menunjukkan masih bertahannya bakat mereka, tetapi juga memperlihatkan pertumbuhan mirip para remaja.‘Kebangkitan generasi tua” telah terjadiAda pembedaan penting yang harus ditekankan di sini. Banyak bintang lama terus menghasilkan musik baru dan mendapatkan bayaran tinggi, tanpa mengubah gaya klasik mereka, seperti Rolling Stones, Billy Joel, Paul McCartney, Fleetwood Mac, AC/DC, dan lain lain.Pada saat yang sama, ‘kebangkitan generasi tua’ terjadi, kecenderungan yang kemungkinan perintisnya adalah Johnny Cash.Pada dekade terakhir kehidupannya, dia meninggal di usia 71 tahun pada tahun 2003, Cash menemukan suara baru dengan arahan produser Rick Rubin lewat serangkaian American Recordings.Beberapa tahun kemudian, Robert Plant, 67 tahun, melakukan terobosan menembus Led Zeppelin. Dia tidak ikut serta tur Zep yang menguntungkan dengan Jimmy Page pada tahun 2007, Plant malahan menciptakan suara baru dengan Alison Krauss, dan hasilnya lagu nomor satu platinum lewat Raising Sand yang meraih album terbaik Grammy 2008.Demikian juga dengan Mavis Staplesm 76 tahun yang justru memiliki masa paling produktif selama karir 50 tahunnya, lewat album terbarunya yang diproduksi Jeff Tweedy dari Wilco.Menua dengan penjiwaanUmur sepertinya menunjang bintang soul. Bettye LaVette baru digemari pada usia ke 60. Dalam sepuluh tahun terakhir, bintang yang sekarang berumur 70 tahun itu telah mengeluarkan empat album yang mendapatkan banyak pujian dan penggemar.Sesuatu yang tidak dialaminya pada 40 tahun pertama karirnya. Penyanyi mirip Otis Redding, Charles Bradley baru mengeluarkan album penuh di usia 62 tahun, No Time For Dreaming, lewat Dap-Tone.Karyanya selanjutnya dipakai bintang hip-hop seperti Jay-Z dan Asher Roth. Pada bulan April, Bradley, 67 tahun, mengeluarkan karya terbaru lewat Changes.Pemunculan yang agak aneh terjadi pada bulan Maret tahun ini. Salah satu bintang pop 70-an yang menghilang, Emitt Rhodes, 66 tahun, terbangun, sama seperti Rip Van Winkle, dan mengeluarkan musik barunya setelah 43 tahun.Album berjudul Rainbow Ends menampilkan suara Rhodes yang banyak berubah di masa mudanya yang mirip Paul McCartney. Sekarang dia lebih mirip Warren Zevon. Album ini membuat Rhodes terlihat melampaui melodi masa mudanya, dengan memberikan lagu pop terbaik dalam 20 tahun terakhir.Dalam sebulan ini, kebangkinan generasi tua dipuncaki tiga hal: Bob Dylan baru saja mengeluarkan album kedua berjudul Fallen Angels yang menunjukkan pemusik 75 tahun ini memberikan suara dan karakter yang berbeda.Penampilannya memberikan versi cerdas lagu klasik Amerika yang dibuat terkenal Frank Sinatra dan Judy Garland.Pada saat yang sama, William Bell, 76 tahun, bintang tahun 70-an yang turut menulis lagu blues Born Under A Bad Sign, baru saja mengeluarkan album besar pertamanya dalam 40 tahun, This Is Where I Live.Parsley, sage, rosemary and timeIni semua menakjubkan. Tetapi tidak satupun dari pemusik senior yang meloncat lebih tinggi daripada Paul Simon. Simon telah menggunakan alat seperti Chromelodeon dan Cloud-Chamber BowlsLewat album solo terbarunya, Stanger to Stranger. Bintang berusia 74 tahun ini meniti tempat-tempat yang belum pernah dijelajahinya. Ini benar-benar sesuatu bagi seorang seniman yang membuat musik dunia terkenal lewat karyanya di tahun 60-an, seperti pujian untuk Peru, El Condor Pasa. Sekarang dia menemukan irama yang tidak terpaku pada satu tempat.Stranger to Stranger memang mengunjungi sejumlah tempat yang dikenal orang, termasuk South Africa (Graceland), Peru dan New Orleans.Tetapi efek paling menariknya diantaranya adalah alat musik yang diimpikan ahli teori musik abad ke 20 AS, Harry Partch.Simon menggunakan instrumen Partch seperti Chromelodeon dan Cloud-Chamber Bowls, yang menggunakan nada-mikro untuk memainkan oktaf sehingga menghasilkan suara yang lebih halus.Alat ini memisahkan 43 nada dalam sebuah oktaf, bukannya ke 12 nada seperti yang biasa terjadi.Agar dapat menghasilkan begitu banyak suara, Simon mengajak pemusik tua lainnya, Roy Halee, 81 tahun, yang terlibat dalam rekaman klasik bintang tersebut saat bersama Art Garfunkel.Halee memang saat hidup saat berkutat dengan peran ruang pada suara. Dia membuat setiap alat musik di Stranger dapat menghasilkan 3D.Simon juga mengajak seniman muda electro-dance dari Italia, Cristiano Crisci, yang dikenal lewat nama Clap! Clap! Crisci menyumbangkan beat pada tiga lagu, termasuk Wristband, yang cukup merenggut perhatian sehingga menghasilkan lagu pop teratas pertama Simon dalam puluhan tahun.Sepanjang album ini, Simon menggunakan tepukan tangan, dengan alat satu daway seperti gopichand India dan instrumen perkusi Peru, cajon.Irama seringkali mendominasi lagu, sama seperti album Simon sebelumnya mulai dari Graceland.Ironisnya, pria yang menghasilkan sejumlah meodi terbaik dalam setengah abad ini, selama bertahun-tahun, menyembunyikan hal ini untuk mengedepankan irama.Lebih baik dari sebelumnyaPada album terakhir Simon, So Beautiful, So What, lirik menggarisbawahi frasa seperti “bop bop a whoa” dan “ooh Papa Do.Ada kejenakaan di balik itu semua. Ini menandai perubahan karya Simon lewat album tahun 2006, Surprise.Lewat kerja sama dengan Brian Eno, yang juga memelintir musik sesuai dengan keinginannya. Sejak saat itu, album-album Simon lebih cerdas, lebih terpusat pada kecacatan keyakinan, disamping keserakahan manusia dan kefanaan.Menuanya penduduk mendukung kebangkitan iniDalam Afterlife dari album terbarunya, tokohnya meninggal, tetapi dia menemukan gundukan dokumen yang telah menunggunya. Lewat Werewolf, Simon menulis, “kebanyakan tulisan tentang meninggalnya seseorang berisi campuran pandangan/kehidupan sama dengan lotre, banyak orang kehilangan/menjadi pemenang, orang yang bahagia dengan mata mirip uang/pemangsa semua nuggets/dan kemudian masih memesan kentang goreng tambahan.”Ini sangat berbeda dengan kata-kata yang dituliskannya untuk Simon and Garfunkel, yang kadang-kadang terlalu berjarak.Ironisnya, musik Simon juga menjadi lebih seksi saat dia memasuki umur 60-an dan 70-an. Terkait dengan hal ini, selain keinginan berinovasi, Simon juga menyempurnakan musik yang tetap menjadi bagian paling penting kehidupannya.Bagaimana dia, dan petualangannya, tetap memiliki penggemar setia? Menuanya penduduk, penolakan generasi 60-an terhadap penuaaan, disamping penghormatan generasi abad ke 21 terhadap musik generasi sebelumnya, memungkinkan kebangkitan ini.Yang menarik adalah Simon dan rekan-rekannya bahkan tidak mewakili generasi yang lebih tua lagi.Tony Bennet yang akan berusia 90 tahun di bulan Agustus, menghidupkannya kembali, dengan album nomor satunya lewat kerja sama dengan Lady Gaga, Cheek To Cheek.Dia bahkan tidak memerlukan dukungan kemudaan usia Gaga agar berhasil. Lewat tur sukses mereka tahun lalu, Bennet lebih lama berada di panggung dibandingkan Gaga, memperlihatkan phrasing yang sempurna dan baru.Ketika saya berbicara dengan Bennet tahun lalu dia mengatakan pada umur 89 tahun, “Saya masih berusaha menemukan diri. Saya banyak belajar agar menjadi lebih baik. Setiap waktu, saya melihat ke masa depan.”Industri musik tidak terlalu mendukung sikat tersebut, membentuk seniman lewat cara yang membuat mereka terkenal, atau yang lebih buruk lagi, menempatkan mereka dalam cara yang sudah terbukti berhasil untuk bintang lainnya.Tetapi strategi lama industri ini sudah terbukti tidak berguna. Ini telah terbukti membebaskan seniman untuk mencoba gaya baru dan membayangkan masa depan yang kreatif selama mereka masih hidup. Dipetik dari BBC (mw) selanjutnya