blok-natuna

Jakarta, Seruu.com - Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa Penandatanganan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) blok East Natuna antara pemerintah dan konsorsium PT Pertamina (Persero), ExxonMobil, dan PTT EP diundur lagi.

Luhut Pandjaitan mengaku sudah memutuskan penandatanganan PSC akan dilakukan bulan ini karena beberapa masalah teknis masih dibicarakan.

"East Natuna ternyata ada sedikit masih putus, tapi dalam satu bulan ke depan akan selesai. Ada masalah teknis yang masih dibicarakan. Tapi sudah sangat maju," kata Luhut Pandjaitan, di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Masalah teknis yang dimaksud terkait dengan pembagian porsi split hak partisipasi (participating interest/PI) antara pemerintah dan konsorsium. Saat ini pembagian untuk minyak 85:15 dan untuk gas 70:30. Kedua porsi tersebut tidak terlepas dari kondisi harga minyak dan gas saat ini.

"Kita mau lihat di harga berapa mau kita bikin. Kita mau kaitkan nanti antara harga tinggi dan harga rendah," ucap Luhut Pandjaitan.

Pemerintah akan lebih terbuka agar ada yang berinvestasi di blok tersebut. Luhut menambahkan akan membagi keuntungan yang sama antara pemerintah dengan kontraktor (sharing the pain and the gain). "Jadi sharing pain dan sharing gain. Kalau kita terlalu kaku juga nanti orang tidak ada yang mau," pungkas Luhut Pandjaitan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan bahwa kontrak kerja sama tersebut sudah siap dan hanya menunggu finalisasi. Hari ini konsorsium akan melaporkan ke pada Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM.

"Kan konsorsium itu mereka Pertamina, ExxonMobil, PTT. Kan term and condition-nya sudah kita bahas. PSC sudah siap tinggal finalisasi saja. Hari Rabu mereka lapor ke pak menteri," kata IGN Wiratmaja Puja.

IGN Wiratmaja Puja menjelaskan bahwa konsorsium bukannya tidak menyetujui term and condition yang ditawarkan. Tapi, biasanya mereka melihat dari keatraktifan dan keekonomisan wilayah kerja tersebut.

"Yang sekarang lagi ditawarkan lagi dibahas sama mereka. Berapa yang cocok. Opsinya masih dibahas. Apakah satu PSC atau dua PSC. Dua-duanya sudah kita siapkan," ucap IGN Wiratmaja Puja. (MTN/RS)